Om Semut

Catatan Harian Insan Sutejo

Salju di Musim Panas

Kategori Mimpi | oleh Insan Sutejo | ditulis pada 07 January 2021 | dibaca 43 kali

Salju di Musim Panas

Cerita ini berasal dari mimpi ketika saya tidur, mimpi yang aneh dan semakin sering terjadi. Mungkin kalau saya ceritakan saya tidak akan mengalaminya lagi.

Apa anda pernah bermimpi?, bagi sebagian orang mimpi hanya bunga tidur, mimpi buruk maupun mimpi yang menyenangkan bukanlah keinginan kita. Namun bermimpi mengenai hal yang sama sangat-sangatlah menyiksa atau bahkan membosankan.

Kisah dalam mimpi kali ini, berlatar belakang pada masa kerajaan, entahlah kerjaan apa,tapi cerita diawali dengan dua orang prajurit yang sedang menjaga sebuah tenda, di dalam tenda tersebut terdapat beberapa orang, beberapa wanita, saya melihat seorang wanita sedang melahirkan, ia merintih kesakitan dan terus berusaha supaya proses persalinan segera selesai, hal yang ditunggu pun akhirnya datang, lahirlah seorang bayi berjenis kelamin laki-laki, si ibu dan beberapa orang yang berada di tenda tersebut sangatlah berbahagia, bayi tersebut langsung ditaruh di samping ibunya dan baru saya tahu ternyata ia adalah seorang ratu dan bayi tadi adalah putera mahkota.

Di tengah udara yang dingin, bayi tersebut pun terus saja menangis dan pelukan ibunya tidak mampu menghangatkan badannya yang masih lemah. Awalnya semua berjalan seperti biasa saja, hingga tengah malam tiba, seorang prajurit berlari, memberi kabar bahwa wilayah tersebut tidaklah aman, para pemberontak telah menembus perbatasan, sang ratu dan bayinya harus segera dipindahkan ke tempat yang aman.

Saya sendiri masih bingung, ini seperti nyata. Saya sendiri menjadi prajurit penjaga, yang kebetulan mendapatkan tugas untuk menjaga sang ratu pada malam itu. Saya bersama rekan saya bernama Fir, ia bertubuh tinggi besar, berewok, selewat mungkin wajahnya sangatlah sangar, tetapi ia sangatlah ramah dan baik hati. Kami dibagi menjadi 2 tim, saya dan Fir mendapatkan tugas untuk membawa sang bayi, sedangkan komandan dan rekan yang lain membawa ratu, kami berpencar untuk memudahkan pelarian dan seandainya dari kami ada yang tertangkap, tim lainnya bisa selamat.

Malam itu kami bergegas berangkat. Fir membawa beberapa bekal dan senjata, aku sendiri menggendong si bayi, kami berlari menuju perbukitan, sedangkan tim sang ratu menuju hutan dan setelah itu saya tidak tahu lagi mengenai kabar komandan, rekan lainnya maupun sang ratu.

Hingga pada suatu hari yang terik, si bayi mulai kelaparan dan membutuhkan ASI, namun kami kesulitan untuk mendapatkannnya, sepanjang perjalanan tidak menemukan perkampungan, namun kami tidak putus asa, si bayi kami beri minum air putih, yang berasal dari sungai yang kami sebrangi. Menjelang sore akhirnya kami menemukan sebuah perkampungan, kami sangat senang, oh ya...kami pun mulai menyamar untuk masuk ke perkampungan tersebut, mencari ibu yang menyusui atau susu segar untuk si bayi calon raja kami. Saya sangat sedih karena sang raja telah tewas dalam pertempuran diperbatasan, memang pada saat itu kerjaaan kami sedang dalam peperangan melawan pemberontak yang masih saudara sang raja, ratu kami pada saat itu sedang mengandung dan kini kami mendapatkan tugas untuk mengantarkan bayi ini ke kuta raja.

Tantangan terbesar dalam tugas kali ini bukanlah pemberontak tetapi memastikan si bayi tetap bisa bertahan, bayangkan saja, kami (saya dan Fir) laki-laki, walaupun di dunia nyata saya berpengalaman merawat bayi, namun untuk ASI kami kewalahan, beberapa kali kami harus mencari ibu menyusui atau mencari peternakan untuk mendapatkan susu segar. Perjalanan semakin berat ketika kami, harus melewati blokade dari musuh-musuh kerajaan, apalagi tersiar berita kalau sang ratu sudah melahirkan dan perjalanan kami ke kuta raja semakin terhambat.

Hari ini hampir 3 bulan perjalanan kami ke kuta raja, kami tidak melewati jalan biasa tetapi melalui perbukitan dan pinggiran kota, si bayi yang kami bernama Rumana pun sudah mulai bisa mengoceh dengan bahasa bayi. Hari-hari kami lewati dengan suka cita, hingga pada suatu hari kami mendengar kabar sang ratu tertangkap dan tewas ditangan pemberontak, kami sangat bersedih dan berharap bisa selamat sampai ke kuta raja.

Pernah suatu ketika saya terluka karena melindungi Rumana dan bersembunyi beberapa hari di gua-gua di tepi hutan, Fir sahabatku yang setia tetap teguh menjalani beberapa siksaan ketika ia tertangkap oleh pasukan pemberontak, walaupun ia harus kehilangan sebelah daun telinganya karena dipotong oleh pemberontak, bersyukur karena Fir bisa kabur dan kami bisa bertemu kembali di perbatasan kuta raja.

Hampir 6 bulan lamanya kami, berjuang antara hidup dan mati, melindungi putera mahkota, si bayi Rumana, yang kini telah menjadi yatim piatu, kami bersyukur bisa selamat sampai ke kuta raja dan Rumana bisa aman di sana bersama pamannya. Musim panas ini terasa sangatlah dingin sedingin salju, dimana rakyat sangat kehilangan sang raja dan ratu, namun ada harapan baru yang akan muncul, Rumana. Kami berharap suatu hari kami bisa menceritakan kisah ini kepada Rumana, bagaimana adil dan bijaksananya sang raja dan betapa setianya sang ratu, hingga maut memisahkan mereka.

Mimpi pun berakhir, dengan angin sepoi-sepoi yang membuat saya merasa sangat nyaman, hingga terdengar suara seseorang memanggil, pak shalat sudah siang...ternyata itu suara istri saya. oh...saya baru sadar kalau ini semua hanya mimpi dan saya pun terbangun dengan badan sedikit pegal-pegal. Ending yang memusingkan. Selesai?.

#perang#bayi


profile
Insan Sutejo

Halooo, senang sekali dapat menulis di blog ini, saya masih belajar dan terus belajar, karena dengan belajar kita mendapatkan ilmu dan pengalaman

Selengkapnya >>